Bismillahirrahmanirrahim...
"Ponakan Kesayangan Abu Thalib."
Sebelum wafat di usia 80 thn, Kakek Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam sudah menitipkan Rasul ke Abu Thalib. Abu Thalib bukanlah anak tertua. Yg tertua adlh Harith, tapi ia tak seberapa mampu. Ada pula Abbas yg mampu, tapi kikir. Abu Thalib memiliki perasaan yg paling halus & juga terhormat di kalangan Quraisy. Tak heran Abdul Muthalib memilihnya.
Bersama Abu Thalib, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam berusaha meringankan beban pamannya, menggembalakan kambing, di sekitar Mekkah. Saat usia 12 thn, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam mulai ikut pamannya berdagang ke Suriah. Sbenarnya Abu Thalib tak ingin mengajak Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam krn perjalanan ke Suriah sangatlah sulit, melewati padang pasir yg luas. Namun karena Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam berkeras untuk ikut, Abu Thalib terpaksa mengabulkan permintaan ponakannya tersebut.
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam ikut kafilah & sampailah di Bushra, sebelah selatan Syam. Diperjalanan inilah ia bertemu dgn Buhaira. Buhaira adalah rahib yg melihat tanda kenabian pada diri Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam sesuai dgn naskah Nasrani yg disimpannya. Sebagian sumber menceritakan, Buhaira menasehati keluarga Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam agar jangan terlalu masuk ke daerah Syam. Buhaira khawatir orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda kenabian ini akan berbuat jahat kepada Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam.
Dlm perjalanan ini Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam belajar byk hal. Ttg peninggalan bangunan Thamud,melihat perkebunan buah di Syam. Di Syam ia mendengar ttg kerajaan Romawi, agama kristen & kitab sucinya. Juga ttg persiapan perang dg oposisinya, Persia. Selepas perjalanan Syam itu, nampaknya Abu Thalib tdk menghasilkan begitu banyak uang, itu terakhir kali ia berkelana.
Ia menetap di Mekah bersama anak2nya yg banyak, juga Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam, meskipun dengan harta yang seadanya. Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam menerima keadaan ini dgn lapang dada. Dan juga membantu keluarga pamannya semampu tenaganya.
Bila tiba bulan suci, kadang ia mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair mudhahhabat & Mu'alaqat. Al-Mu'allaqat adalah nama 7 buah kumpulan puisi Arab pra Islam yang dianggap terbaik. Dituliskan dengan tinta emas. Didengarnya pula ahli-ahli pidato Yahudi & Nasrani yg membenci Arab. Mereka bicara ttg kitab suci Isa & Musa. Ahli-ahli pidato Yahudi & Nasrani ini mengajak orang-orang untuk mengikuti jalan mereka, sesuai dgn kitab mereka. Meski merasa yg disampaikan ahli pidato itu lebih baik drpd agama nenek moyangnya, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam tdk merasa yakin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar